Cerita Rakyat di Kabupaten Musi Banyuasin


RANGGONANG
Penulis naskah : suwandi,S.H
Sutradara : Ariyadi
Astrada : Jeger
Nara sumber : -Muhammad Nasir ,S.Pd
-Buku Ranggonang ,oleh:A.Malik,penerbit Fa.Sinar Bahagia 1969

Bertegak Gelar : BUDJANG PAHLAWAN KELANA SAKTI
Bernama Abiseka : RANGGA SANG(Hang) HIJANG NILA NISTJAJA

Para Pemeran :
 Ranggonang
 Datuk Temenggung
 Datuk Bilanti
 Ratna dewi kemala sakti
 Ratu Masturi
 Putri Cindai Kesuma Mega Sari
 Raja Bintala
 Anak Dalam Bandar Bengkulu
 Serikanti
 Liman meta
 Para pengawal
 Para perampok


SINOPSIS CERITA

Ranggonang bertegak gelar :BUDJANG PAHLAWAN KELANA SAKTI,
bernama Abiseka : RANGGA SANG(Hang) HIJANG NILA NISTJAJA,tinggal di Kerajaan Bang Bayang di DANAU CALA (MUSI BANYUASIN) ia adalah putera sulung dari kerajaan tersebut,ayahnya bernama Kebau Lajang ia gugur di medan perang di palembang demikian pula sang Ratu.
setelah Ayah dan Ibunya meninggal dunia ia pun berkelana dari dusun ke dusun,untuk menjaga ketentraman daerah di sepanjang sungai musi.
Ranggonang seorang pemuda Bangsawan dan panglima muda ,menjamin keamanan dan keselamatan di sepanjang sungai Musi dari batas kota Palembang (Sungai Tawar) hingga ke Rawas dan Musi-Hulu dan daerah Utara.
Suatu hari ia mendapat mimpi bertemu seorang wanita cantik yang berada di kerajaan Muara Rawas,Ranggonangpun pamit pada adiknya Ratna Dewi Kemala Sakti untuk menemui pujaan hatinya,saat akan pergi ranggonang di temani oleh Serikanti untuk menjaganya selama dalam perjalanan.dalam perjalanan menuju Muara Rawas ia bertemu dengan berbagai macam cobaan,diantaranya bertemu dengan raja Rampok yang bernama Raja Bintala,terjadilah perkelahian yang hebat mengakibatkan Raja Bintala Mati.
Sesampainya di kerajaan Muara Rawas Ranggonangpun menyamarkan dirinya menjadi budak iapun menemui Ratu Masturi untuk di jadikan Penggawa istana,di kerajaan itulah Ranggonang bertemu pujaan hatinya yang bernama Putri Cindai Kesuma Mega Sari yang tak lain adalah anak dari Ratu Masturi.

Adegan 1

Datuk Tumenggung di ancam pembajak cina akan membunuh semua penduduk di ibu kota dan akan menyerbu secara membabi buta ke pedalaman,datu temenggung di bebaskan dengan sumpah bahwa ia akan mengambil pusaka kerajaan dan menyerahkannya sebagai tanda takhluk

Datuk Temenggung :”demi rakyat,selagi ada nyawa di kandung badan ,pusaka kerajaan akan aku serahkan” itulah sumpah yang aku ucapkan saat itu ranggonang!!!

Ranggonang :tapi paman itu adalah pusaka kerajaan kita yang tak boleh di miliki oleh siapapun

Datuk Temenggung :aku menyesal Ranggonang,aku Panglima Agung tak mungkin mengingkari sumpahku,dan tak juga rela Pusaka kerajaan ini jatuh pada orang lain…bunuhlah aku ranggonang …cepat..agar aku dapat mati tenang dan mati secara ksatria karena tidak melanggar sumpah dan tidak menghianati rakyat,sehingga dapat di anggap sebagai gugur di medan juang!!
(pedang Ranggonang pun tanpa sengaja mengenai tubuh datuk Temenggung
Sehingga ia mati,setelah itu Ranggonang bersemedi untuk memohon ampun atas tindakannya terhadap pamannya serta memohon ilham)

Ranggonang :”aku turuti kehendak cintaku yang di bisikkan
Oleh sukma nan suci,aku dijalankan tugasku yang berat dengan kejantanan dan kesadaran tanggung jawab,kedua-duanya aku laksanakan dengan kebijaksanaan berkat hikmat yang di karuniai oleh yang maha esa”(setelah Masuk Islam)


Ratna dewi kemala sakti :Burung pipit turun ke sawah
Duduk bertengger di batang padi
Puteri kini berdatang sembah
Sembah adik kemala sakti

Berdesir sedjuk angin di pantai
Seakan hendak berbuat bakti
Sedjak tadi puteri mengintai
Mengapa kuyung bersedih hati

Ranggonang :Harum semerbak minyak kesturi
Mari memetik bunga melati
Marilah adik mari kemari
Marilah sayang si jantung hati

Adik sayang sedap di pandang
Bernama kecil bulan kemambang
Bertegak gelar berbuat sakti
Ratna dewi kemala sakti


Ratna dewi kemala sakti :Dari gunung turun ke lembah
Di lereng memetik buah pidara
Adikmu hina datang bersembah
Hendak menghibur hati nan lara

Mohon ampun adik bertanya
Dari mana datang derita
Kalau gerangan apa mulanya
Adik carikan penawar mata

Ranggonang :Di biduk jangan duduk di tepi
Buah durian lezat berduri
Terpandang olehku di dalam mimpi
Wadjah nan cantik tidak terperi

Sayup-sayup sinar pelita
Pelita menjala dari beranda
Konon tersiar kabar berita
Di rawas kiranya puteri berada

Ratna dewi kemala sakti :tidak mengerti belumlah faham,kepada tuhan kita berpinta!
Pohon cempedak mudah berbuah
Hendak di jual di mangun jaya
Percayalah kanda pada tuah
Tuah warisan sriwidjaja

Ranggonang :wahai Dewi Kemala Sakti
Kepada tuhan mari berpinta
Dari malu,baiklah mati.


Pedangku bukan sembarang pedang
Kerisku bukan sembarang keris
Kawan mengamuk di medan perang
Bila di hunus tidak tertangkis

Lupakan adik segala derita
Biarlah kanda pergi melata
Putuslah kata pendapat beta
Puteri ku tjari alam semesta



(kemudian datanglah Datuk Bilanti dan Serikanti)



Ranggonang :tinggallah kalian wahai adikku
Turutlah perintah Datuk Bilanti
Tolonglah lihat akan adikku,agar sabar dapat menanti
Aku hendak pergi merantau,entah sejenak entahpun lama,
Musuh datang harus di lawan
Jangan lascar kehilangan nama

Jika ada serangan lawan
Biar mati janganlah mundur
Jika kalian akan tertawan
Carilah sendiri liang kubur

Kini datuk terimalah tanda,hormat dan hikmat jangan tiada,
Tanda pimpinan laskar baginda,pertahankan sampai di ujung nyawa.

Datuk Bilanti :datuk Bilanti berdatang sembah
Di medan perang beruban rambut
“sekalipun Patik harus rebah,takkan musuh dapat merebut”

Ranggonang :wahai manda Datuk Bilanti,inilah bicara pahlawan pasti

(Berkata Pada Adiknya):
“tinggallah adik dengan baiknya,Datuk Bilanti telah maklum
Buah pauh hendak di lajang
Di lajang oleh jin dan peri
Kini tinggallah adikku sayang
Aman sentosa menjaga diri”

Ratna dewi kemala sakti :wahai kanda bujang pahlawan
Siapapun kalah bila melawan
Dengarlah pinta adik perawan
Serikanti bawalah sebagai kawan

Jangan melawat seorang diri,di jalan banyak unak dan duri
Kelana perampok kesana kemari,mencari mangsa di siang hari
Bawalah serta pendekar sakti,penuh siasat bijak terbukti
Pilihanku pada Serikanti,sepanjang masa telah berbakti.

Ranggonang :jika begitu ujar adinda
Kata seindah emas perada
Mari Serikanti ikut kakanda
Semoga jasa berlipat ganda


Serikanti :Patik gembira bukan kepalang
Ikut ke sungai turut ke padang!



Adegan 2

( Pendekar kini tersesat,tersesat di dekat muara punjung,binatang banyak rimbanya lebat,dari pangkal hingga ke ujung)

Radja Bintala :”wahai celaka anak seteru,jika lari engkau kuburu”
Tahukah engkau siapa namaku
Aku bernama Radja Bintala
Hutan dan rimba jadi milikku
Aku sakti tiada tercela

Engkau berdua tunduk kepala
Keris dan pedang beri padaku

Ranggonang :wahai mamak Radja Bintala
Kami tersesat datang melata
Mohon ampun di hardik rela


Radja Bintala :jangan mulutmu berani tjempela
Leher ku pantjang dada ku tikam

Ranggonang :wahai mamak dengarkan daku
Mamak nan sakti bukan tandingku
Raja Bintala raja di rimba
Meradja luas amat jayanya
Di hutan ini hambamu tiba
Hendak keluar apa dayanya
( Terejadi perkelahian antara Radja Bintala dan Ranggonang )

Ranggonang :( sambil menghunus keris pusaka)
“Radja Bintala tidak berbakti
Ku tolong engkau masuk neraka”

Radja Bintala :(Tertawa dan mengejek)
“wahai tjebol berkeris pendek
Kalau haus menyusulah dulu
Kalau Bintala hendak di lawan
Mohonlah dulu restu sang ibu
Janganlah lupa bawalah kawan
Janganlah satu tapi seribu

Ranggonang :raja bintala raja durhaka
Ingat olehmu aku siapa
Ranggonang mengirim masuk neraka
Mulutmu kotor sudah biasa
Sifat sekeji ular berbisa
Kalau tidak engkau binasa
Takkan negeri aman sentosa
(tibalah pada suatu saat,saat membawa suatu riwayat,tampak ranggonang tangkas melompat,keris menembus dada radja Bintala,ia sangat terkejut ,tuah saktinya hilang lenyap,nyawa Bintala terbang melayang)

Ranggonang :dengar kalian budak keparat,apa kataku harap diingat.
Bila maksiat masih kau buat
Itulah bukti sifat nan laknat
Leher ku penggal lidah ku kerat

Kini pulanglah kalian ke kampung
Jangan berjudi jangan menyabung
Niat yang jahat jangan di kandung
Tingkah nan buruk jangan di kandung

Perampok :terima kasih atas pengampunan tuanku,silahkan tuan pergi ke timur disanalah tempat untuk keluar dari hutan belantara ini.

( mereka menuju Muara Rawas)

Ranggonang :kita laksana buluh serumpun
Inilah kanti uang belanja
Kain dan baju pergilah beli
Aku ke kota seorang sahadja
Ingin mengabdi ratu Masturi

Simpanlah rahasia wahai adikku
Sembunyikan kuda serta pedangku

Adegan 3

( Kerajaan Muara rawas,Tampak Ratu Masturi para penggawa Istana,Putri Cindai Kesuma Mega Sari)

Pengawal :Ampun Tuanku Ratu,ada budak Di luar Istana Mau Menghadap?

Ratu Masturi :panggillah lekas budak di pintu
Hadapkan ia padaku ( Ranggonangpun masuk)
Anak muda apa maksudmu
Apa maksudmu datang kemari
Engkau datang apa hajatmu
Katakana apa engkau ingini

Ranggonang :patik ini budak rendah
Ingin mengabdi boleh kiranya
Patik hina sebatang kara
Ayah tiada ibu tiada
Hamba miskin piatu pula
Ilmu tidak emas ta’ada


Mohon sang ratu bermurah hati
Jadikan patik seorang abdi
Hamba berjanji hendak berbakti
Patik ingin membalas budi

Ratu Masturi :wahai pemuda muda kelana
Telah ku dengar apa niatmu
Terbetik cerita di sini sana
Ranggonang kiranya konon namamu

Jika Ranggonang benar namamu
Serupa dengan panglima raja
Sopan dan santun ada padamu
Baik kiranya tinggallah saja

Sungguh-sungguh engkau bekerja
Mana yang baik kerjakan saja
Menurut pantas seorang abdi

Ranggonang :pada Ratu patik berharap
Mohon kasihan apa kiranya
Apa tugas hamba nantinya?

Ratu Masturi sambil membelai Puteri)
Apa kiranya anakku sudi
Ibu ingin hendak bertanya
Jika ranggonang ku ambil abdi
Apa gerangan akan kerjanya!

Puteri Cindai :menurut ananda ia layak untuk menjadi penggawa istana


Adegan 4

Liman meta :konon ku dengar ada penggawa istana
Begitu di puja Ratu Masturi
Tiada senang aku berkata
Akan aku hancurkan namanya hingga tercela

Ranggonang kau akan menyesal
Fitnahku akan sekejam duri hutan
Jika aku tak bisa mengusirmu
Bukanlah namaku si Liman Meta,..haha

( kemudian datanglah Ratu Masturi dan Putri Cindai)

Tuan ratu yang bijak sekali
Kerajaan kita bisa kacau kalau begini
Bujang Ranggonang telah menghasut rakyat
Untuk melawan dan menggulingkan kerajaan tuanku

Sebaiknya cepat usir dia jangan ragu
Jangan beri ampun bila perlu penggal lehernya
Sebelum kerajaan jadi celaka
Sebelum kerajaan jatuh di tangan orang hina itu

Ratu Masturi :jika benar berita itu,cepat hadapkan ia dengan paksa!

( si liman meta menyuruh pengawal untuk menjemputnya tak lama
kemudian Ranggonang datang dengan terpaksa)

liman meta :mengakulah kalau memang benar kau pelakunya
memfitnah ratu dengan kejinya
tak akan ada ampun untukmu
wahai budak yang tak tau balas budi

ranggonang :sungguh tak benar fitnah itu
hamba mengabdi dengan baik budi
tiada maksud untuk mencelakakan kerajaan ini

liman meta :tak ada maling yang hendak mengaku
jika mengaku banyaklah isi penjara

ratu Mastrui :ranggonang kau tak bisa berbalas budi
pergi kau dari kerajaan ini
tak sudi lagi kami melihatmu
sebelum amarah ku semakin menjadi
(Ranggonang pun pergi tanpa kata-kata yang bisa ia ucapkan)




Adegan 5

Putri cindai :aduhai bunda,celaka kita
Hamba menangkap warta berita
Rakyat di hasut si liman meta
Hendak melawan menentang kita

Mohon ampun pada ibunda
Kata nan bijak jangan di tunda
Menurut firasat ilaham ananda
Penggawa murtad harus di landa

Ratu Masturi :wahai ananda puteri jelita
Penggawa jahanam menentang kita
Apa kiranya harus di kata
Kita berdua hanya wanita

Apa gerangan harus di buat
Ananda lemah ibunda tua
Ilmunya tinggi tubuhnya kuat
Bukan tandingan kita berdua
Liman meta gagah perkasa
Menghasut rakyat menentang kita
Sudah terbayang sudah terasa
Hasrat penggawa mengganti kita

Putri Cindai :dengarlah bunda barang sebentar
Liman Meta ular berbisa
Sudah lama beta curiga
Liman meta hendak durhaka
Bukan sekali dua tiga
Setiap kali bawa bencana

Dengarkan bunda nanda berkata
Bila salah marahi saja
Penggawa jahat menghianati kita
Soal ranggonang alasan saja

Tidak salah ranggonang pasti
Pemuda berbudi lagi berbakti
Nanda berkata sesungguh hati
Ranggonang harap bunda ampuni

Ratu Masturi :memanglah bunda dapat firasat
Bujang budiman korban khianat
Liman meta tajam khianat
Penggawa jahat terkutuk laknat

Ranggonang entah di mana kini
Suruhlah cari kesana-sini
Panggil pemuda gagah berani
Kita maafkan kita ampuni

Adegan 6

Ranggonang :wahai adikku muda teruna
Mari bicara bermula kata!

Serikanti :liman meta ingin mahkota
Menghasut rakyat khianat serta
Liman meta penuh siasat
Banyak akalnya menipu ratu
Dalam dadanya dendam kesumat
Ada udang di balik batu

Patik menangkap sebuah warta
Warta penting bukan sembarang
Patik yakin pada berita
Liman meta hendak menyerang

Ranggonang :aku tau akan ikhwalnya
Aku maklum sejak awalnya
Ratu dan Putri dalam bahaya
Maut mengintai segala penjuru


Kini hari mulai petang
Liman meta pasti menyerang
Sifat pengecut adalah pantang
Putar senjata sejak sekarang

Hati-hatilah kita menyelinap
Keris dan pedang haruslah siap

Serikanti :sudilah tuan bermurah hati
Agar hidupku mengandung arti
Wahai tuanku pujaan hati
Segala perintah patik patuhi
Mohon tuanku berkenan hati
Liman meta patik hadapi

Ranggonang :serikanti hatimu murni
Engkau pendekar gagah berani
Liman meta teramat sakti
Aku kuatir di dalam hati

Liman meta pendekar jaya
Pintar berpencak pandai bersilat
Hendaklah engkau bertipu daya
Tipu muslihat jangan mendekat

Buka silatmu berhias tari
Sambil mengejek engkau mencela
Paksakan ia kesana-kemari
Supaya letih sukar membela

Jika silatnya porak poranda
Pastilah banyak ada peluang
Tikamkan kerismu tepat di dada
Peluang ini jangan di buang

Adegan 7

Serikanti :sungguh gila si liman meta
Mengapa pesiar di malam buta
Kalau berani hadapi beta
Jikalau gelap bawa pelita

Wahai penggawa liman Meta
Besar hatimu bagai kemiri
Apa matamu menjadi buta
Apakah engkau takut kemari?
( Liman Meta marah dan terjadilah perkelahian)


Liman Meta :Anak kerdil anak jahanam
Takut mati engkau rupanya
Aku mengejar kesana kemari
Engkau berkelit sambil berlari

Apa kerejamu di tengah malam
Tidakkah sadar nasibmu malang
Menyerah engkau berlutut salam
Sebelum kelak ajalmu dating

Serikanti :Serikanti agar kau kenang
Baiklah engkau segera berlutut
Melawan akau pasti tak menang

Bukan budak sembarang budak
Anak dalam bumi pasemah
Takut tidak laripun tidak
Aku membela ratu nan lemah

(Serikantipun tikam dada si liman meta,hingga iapun mati,kemudian
Datanglah pengawal istana)

Pengawal :wahai pahlawan janganlah pulang
Ratu dan Putri sedang menunggu
(Kemudian datnglah Ratu dan Putri cindai)

Ranggonang :patik ini memang ranggonang
Pakaian patik pinjaman orang
Jika tuanku tidak melarang
Izinkan patik bermohon pulang

Patik miskin bukan hartawan
Muka buruk bukah rupawan
Hina dina bukan bangsawan
Jangan di kira pati pahlawan

Patik mungkin telah berdosa
Menukar talas dengan keladi
Liman meta kini binasa
Patik bertindak membalas budi

Ratu Masturi :wahai ranggonang,wahai anakku
Janganlah engkau pulang dahulu
Besar budimu tidak terbalas
Banyak jasamu untuk negeriku
Budi nan baik ingin ku balas
Hendak ku balas apa dayaku

Hubungan baik hendak ku galang
Nanda berdua muda purana
Serikanti jadilah Hulubalang
Untuk Ranggonang kepala istana

Jangan anjing sampai menyalak
Jangan menebang pohon dadap
Pinta ibunda jangan di tolak
Bersama putri bunda berharap

Ranggonang :ratu Masturi agaung mulia
Patik malu bukan buatan
Kami berdua muda belia
Belum pantas memangku jabatan

Berlayar sampai ke muara punjung
Biduk berlabuh di pangkalan
Perintah Ratu patik junjung
Kami menumpang barang sepekan

Adegan 8 ( taman)

Putri Cindai :wahai petiklah bunga seroja
Bunga mawar ada durinya
Janganlah tuan berdiam saja
Dengarkan aku hendak bertanya

Periuk keran kayu agung
Puteri komering pandai berenang
Mengapa tuan duduk termenung
Kepada siapa tuan terkenang?

Ranggonang :burung dara burung merpati
Di kurung dalam sangkar perada
Mohon dinda berkenan hati
Selamlah lubuk hati kakanda

Adegan 9

(serikanti menghadap ratu Masturi)

Serikanti :izinkan patik hendak berkata
Patik membawa sebuah berita
Pengintai wilayah mengirim warta
Di bawa oleh utusan berkuda
Siapkan segera alat senjata
Kerahkan semua lascar yang ada

Kalau di Tanya tidak menjawab
Kami bertanya tidak di balas
Bagaikan orang kurang beradab
Tanpa izin melanggar batas
Apa maksudnya belumlah paham
Tapi tampak buruk budinya
Mohon perintah segera dan tegas
Kalau terlambat apa jadinya
(Ranggonang di panggil menghadap)

Ranggonang :lain lubuk lain ikannya
Lain padang lain belalalngnya
Maksud baik ada romannya
Maksud nan buruk lain dendangnya

Mohon kiranya paduka Ratu
Sebelum hujan sediakan payung
Suruhlah rakyat erat bersatu
Bagaikan ayam siap di sabung

Ratu masturi :kalau begitu baiklah secepatnya siapkan alat buat berperang!!

Ranggonang :bunda Ratu sabarlah dulu
Kalau sabar ada gunanya
Anak dalam Bandar Bengkulu
Sudah terkenal dahsyat namanya

Ia mahir di medan perang
Berperang laga sudah biasa
Jika kita datang menyerang
Di medan kita rusak binasa

Walau apapun akan terjadi
Kita sambut dengan sabarnya

Pengawal Bandar bengkulu :hamba dating membawa amanat
Amanat penting dari rajaku
Anak Dalam Bandar Bengkulu
Menyuruh hamba dating kemari
Menyampaikan pesan kepada ratu
Raja kami hendak berkata?

Ratu Masturi :sudi datangnya kami menanti
Bila dating akan di sambut

Ranggonang :wahai utusan Bandar Bengkulu
Dengarkan aku hendak berkata
Menurut adapt sejak dahulu
Adat lembaga dahulu kala
Maksud baik di kandung kalbu
Tidaklah pantas membawa bala

(datanglah Anak Dalam Bandar Bengkulu)

Anak Dalam Bandar Bengkulu :dengarlah wahai paduka ratu
Kami datang amatlah lengkap
Anak Dalam Bandar Bengkulu
Telah datang hendak menghadap

Ratu Masturi :telah lama kami menanti
Kami amat bersuka hati
Kami bersyukur dapat berita
Tuanku dating hendak berkunjung

Aku adalah Ratu Masturi
Pada tuanku memberi hormat
Kami berkata sepenuh hati
Apa kiranya tuan inginkan
Mohon di sebut kami dengarkan

Anak Dalam Bandar Bengkulu :keris di pinggang sisip melintang
Tanda menantang padauka ratu
Kemauan kami bila di tentang
Negeri nan dua menjadi Satu

Keris pusaka sirih dan pinang
Beserta songket zaman bahari
Kami datang hendak meminang
Cindai Kesuma mega Sari

Ratu masturi :jika begitu kata tuanku
Kata nan indah akan berbanding
Kami mohon di beri waktu
Dengan puteri hendak berunding

Anak Dalam Bandar Bengkulu :wahai ratu dengarkan daku
Anak Dalam Bandar Bengkulu
Jangan di tentang apa hendakku
Jika di tentang tuanku malu

Putri Cindai : Anak Dalam Bandar Bengkulu
Jangan menghina pikirkan dulu!

Anak Dalam Bandar Bengkulu :wahai putri intan baiduri
Emas,perak,mutu manikam
Apa kau pinta akan kuberi


Putri cindai :bukanlah harta di pandang orang
Orang memandang budi pekerti
Nama nan baik membawa mulia
Angkuh dan sombong peracun hati
Emas dan perak godaan dunia
Budi pekerti hiasan hati

Anak Dalam Bandar Bengkulu lalu menggertak menghentam tanah)
“hai putri dengarlah kini
Engkau pasti ku peroleh
Laskar bengkulu gagah berani
Engkau ku ambil boleh tak boleh”

Ranggonang :janganlah tuan hendak menantang
Janganlah tuan salah pandang
Kerisku juga sudah melintang

Janganlah tuan berpanjang malam
Pulanglah tuan hamba harapkan
Maksud tuan sudah terselam
Apa kehendak esok harapkan

Anak Dalam Bandar Bengkulu :janganlah engkau berbesar mulut
Esoklah engkau bertekuk lutut!
Wahai engkau budak belian
Dating menghamba paduka ratu
Jika ingin intan berlian
Marilah ikut jadi pacalku

Wahai engkau budak nan hina
Tidak ku pandang sebelah mata
Darahmu mengalir tidak berguna
Hanya mencemar pamor senjata

Jika jantan wahai Ranggonang
Mari berjumpa di esok hari
Hadapi aku dalam gelangggang
Jangan terkencing sambil berlari

( dengan tidak bermohon diri merekapun pergi)

Adegan 10

Ratna Dewi Kemala Sakti :wahai datuk dengan ujarku
Muara rawas dalam bahaya
Kini Ranggonang kakak kandungku
Telah di hina apakah daya?

Aku tau akan sifatnya
Tidaklah mungkin menyerah diri
Laskar rawas sangat lemahnya
Laskar bengkulu tidak terperi

Laskar kita cukuplah kuat
Laskar musi sangatlah hebat
Marilah kini kita berangkat
Muara rawas di tuju cepat

Datuk Bintala :jika itu benar,baiklah kita berangkat!

Adegan 11

Ranggonang :wahai adikku si jantung hati
Ratna dewi Kwmala Sakti
Siapa menyuruh datang kemari
Kita berperang bukan menari

Tapi jika niatmu membantu perang
Bersiaplah karena musuh pasti datang


Anak Dalam Bandar Bengkulu :budak belian bagus bajumu
Baju hasil engkau mencuri
Siapa engkau apa asalmu
Sebutlah lekas datang kemari


Ranggonang :akulah ini ranggonang
Bukanlah tiga bukanpun dua
Anak dalam mulut cempela
Karena kaya besar kepala
Sudah gaharu cendana pula
Sudah tahu bertanya pula

Janganlah engkau takburkan diri
Sekalipun kaya gagah berani
Kelak engkau tahu sendiri
Siapa kiranya Ranggonang ini!
( burung merpati pun kini di lepas,lalu di susul bunyi genderang)

Anak Dalam Bandar Bengkulu :wahai pendekar nama Ranggonang
Senjata apa engkau hendaki?

Ranggonang :senjata apapun hamba terima
Tuan pilihlah mana yang suka!

(terjadilah perkelahian,ranggonang bersilat “Elang Melayang”,setelah lama berkelahi akhirnya,baju lawan lalu tertarik,tangan di putar leher di kepit,anak dalam merasa sakit,sebelum menyerah ia menjerit:)

Anak Dalam Bandar Bengkulu :mohon bertanya barang sedikit?
Kata nan benar beri padaku
Mengapa engkau tidak berterang
Belumlah pernah ada tandingku
Selain engkau hanya seorang

Ranggonang :aku di beri nama ranggonang
Nama asliku Rangga Sang Hiyang
Aku panglima raja palembang
Anak musi sudah terbilang

Anak Dalam Bandar Bengkulu :(terkejut dan pada laskarnya ia serukan):
Kita menyerah pada Ranggonang
Apa perintah kita lakukan!

Ratu Masturi :hentikan perang,tunggulah dulu!
(mengamati tanda di bahu Anak Dalam Bandar Bengkulu )
Cobalah buka lenganmu bajumu
Jika ada goresan pedang
Pastilah engkau anak kandungku
(ternyata benar di lengan Anak Dalam Bandar Bengkulu ada bekas goresan pedang,iapun memeluk anaknya)

jantung hatiku anak dalam
keliru meminang adikmu,
kalian saudara kandung
(mereka bermaaf-maafan)

Ranggonang :wahai adikku Bandar bengkulu
Sikap bermusuh sudahlah lalu
Aku gembira amat terharu
Mari menginjak hidup nan baru

Mohonlah patik ratu maafkan
Patik telah berlaku lancing
Khilaf dan dosa mohon maafkan
Semoga ratu berumur panjang

Ratu Masturi :kami umumkan kepada rakyat
Terhitung senang beserta batin
Baik yang jauh maupun yang dekat
Baik yang kaya baik yang miskin

Ranggonang kini aku jodohkan
Cindai Kesuma Mega Sari
Anak Dalam aku kawinkan
Ratna Dewi Kemala sakti
(ramailah gadis Menari)
Ranggonang :ampuni Hamba,.Ratu nan bijak budi..hamba akan berkelana,untuk menjaga keamanan di sepanjang sungai musi,..hamba pamit,jangan halangi pinta hamba,..jika umurku panjang,kelak kita semua pastikan berjumpa(Menghilang)

sekian

0 komentar:

Poskan Komentar